Showing posts with label Filosofi. Show all posts
Showing posts with label Filosofi. Show all posts

Saturday, May 21, 2011

sebuah senandung pengantar tidur

Dulu pada waktu kecil, kami sekeluarga selalu tidur bersama dalam 1 ruangan diatas 2 buah kasur yang disatukan. Ada aku, ayahku, ibuku dan adikku yang bernama topan. Ayahku masih muda pada waktu itu. Beliau selalu bersenandung sebuah tembang jawa. Entah kenapa untuku lagu ini sangat menenangkan. Senandung ayahku itu yg mengantar kami tidur.

Aku masih ingat sepotong-sepotong liriknya. Lalu setelah aku aku cari, ternyata itu lagu itu bernama "Kidung Rumeksa ing Wengi". Lagu ternyata ini merupakan tembang macapat dandang gula karya kanjeng Sunan Kalijogo. Dari liriknya, lagu ini adalah sebuah doa keselamatan universal, yang dipercaya oleh orang jaman dulu bila dibaca tengah malam dirumah dapat menjadi semacam penolak bala. Berikut sebagian dari liriknya :
Ana (ada) kidung (tembang, lagu) rumekso (menjaga) ing wengi (di malam hari)
Teguh (kuat) hayu (selamat) luputa (semoga terhindar) ing lara (dari penyakit)
luputa (semoga terhindar dari) bilahi (malapetaka) kabeh (semua)
jim setan (jin, setan) datan (tidak) purun (mau) (jim setam tidak mau mengganggu)
paneluhan (sihir, tenung, santet) tan (tidak) ana (ada) wani (berani)

Mungkin ayahku itu bersenandung agar kami anak-anaknya yang pada waktu itu tinggal di bekasi lebih mengenal budaya jawa. Atau bisa juga ayahku bersenandung dengan harapan agar anak-anak dan keluarganya selalu diberi keselamatan. 

Mungkin orang tua mu juga melakukan hal yang sama. Hal kecil yang tidak kita perhatikan, tapi sebenarnya ada pesan cinta yang tulus didalamnya.Rasa kasih saya kedua orang tua memang tiada duanya deh. Jadi ingin segera mudik lagi dan bertemu ayah dan ibu dirumah.... :)

Monday, April 18, 2011

Filosofi Cinta

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?" Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,"Apa itu perkawinan?Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?" Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"

Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"